Pages

Kamis, 12 September 2013

Kondisi Ekonomi Indonesia

Kondisi Ekonomi Indonesia Sekarang Berbeda dengan Krisis 2008

Kamis, 29 Agustus 2013, 00:02 WIB
Komentar : 0
Republika/Wihdan
Pertumbuhan Ekonomi (ilustrasi)
Pertumbuhan Ekonomi (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah meyakinkan pelaku pasar modal bahwa kondisi ekonomi yang saat ini terjadi di Indonesia tidak akan menyamai krisis pada 1998 maupun 2008.
"Beda ceritanya. Kondisi saat ini lebih baik. Kondisi perbankan sekarang juga lebih baik dan tidak ada kategori bank sakit," kata Pelaksana Tugas Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro usai menghadiri Pertemuan OJK Menteri Keuangan dan Pelaku Pasar Modal di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/8).
Ketika krisis 2008 nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai Rp 12.000 dan indeks harga saham gabungan anjlok sampai 50 persen. Sedangkan hari ini kondisinya tidak sekarut-marut itu.
Hanya kondisi ini bukan berarti pemerintah bersantai dan melakukan pembiaran. Pemerintah tetap waspada dan melakukan langkah-langkah yang dapat menenangkan pasar.
Respons pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah cukup positif. Hanya mereka masih menunggu kebijakan yang lebih langsung dari moneter. Pemerintah berusaha untuk menjelaskan situasinya kepada pelaku pasar agar suasana tidak menjadi lebih berat.
Hal senada diungkapkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad. Pelaku pasar lebih banyak meminta sosialisasi paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. "Ada masalah jangka panjang dan pendek yang harus segera direspon," ujar Muliaman.
OJK tetap waspada dan optimistis dengan masa depan ekonomi Indonesia meskipun kinerja mengalami tekanan. Pemerintah dan otoritas akan berupaya mengatasi keduanya sehingga perekonomian dan pasar modal kembali stabil.

Abraham Samad : "Politik Indonesia Merdeka, Ekonominya Terjajah"



Ketua KPK: Politik Indonesia merdeka, ekonominya terjajah

Reporter : Muhammad Sholeh
Sabtu, 7 September 2013 14:42:00
Ketua KPK: Politik Indonesia merdeka, ekonominya terjajah
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad, menyatakan Indonesia adalah negara kaya tapi miskin. Bahkan, dia menyayangkan bangsa ini hanya merdeka di bidang politik, tapi masih terjajah soal ekonomi.

Abraham mengatakan, mestinya Indonesia dengan potensi sumber daya alam besar bisa sejajar dengan negara lain. Tetapi menurut dia, produktivitas masyarakat masih lemah dan dikhawatirkan tak mampu bersaing dalam persaingan global.

"Kita merdeka secara politik tapi terjajah secara ekonomi. Kita disegani sebagai negara kuat, betul kuat, kuat dalam anarkisme tapi lemah dalam menghadapi tantangan global," kata Abraham dalam pidato di depan peserta Rakernas PDI-Perjuangan, di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (7/9).

Menurut Abraham, meski selalu dibongkar, makin hari praktik korupsi malah merajalela. Modusnya pun selalu berubah. Mulai dari rasuah penerimaan non pajak, pajak, pengadaan barang dan jasa pemerintah, dana bantuan sosial, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, Anggaran Pendapatan Belanja Negara, serta dana konsentrasi.

Abraham memaparkan, mestinya Indonesia malu lantaran potensi alamnya melimpah. Dia mencontohkan, hasil tambang serta minyak dan gas melimpah di Papua, Kalimantan, Jawa, Sumatera, tapi tetap saja seperti tidak memberi manfaat kepada rakyat.

"Apa yang terjadi? Kita masih dalam posisi negara termiskin di dunia. Angka kemiskinan di Indonesia 29 juta orang lebih. Jumlah ini sama besarnya dengan penduduk Malaysia," lanjut Abraham.

Abraham mengatakan, makin miris ketika fakta jumlah pengangguran di Indonesia menembus 7,6 juta orang. Apalagi ditambah, lanjut dia, utang luar negeri mencapai Rp 1,937 triliun berikut bunganya.

"Kayaknya bayi yang baru lahir di Indonesia harus menanggung bunga utang," ujar Abraham.